Archive for November, 2012

Puisi Cinta

Kita, Pantai, Cinta
Puisi dan Syair
7/11/2012 | 21 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 200
Oleh: Nuri April

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

“Kau di sampingku
Aku di sampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang”

Terima kasih Bapak Abdul Hadi W.M.
atas Cinta yang telah kau tuangkan entah di manuskrip ke-berapa
Lagi-lagi, Cinta-mu mengingatkanku pada getaran
paling pasti dalam hidup: perselisihan
antara si kaya dan si miskin, si besar dan si kecil, si tua dan si muda, atau mereka yang sebaya.

Saat raga-raga mendekat lalu kikuk dan saling menghindar
Saat senyum terasa hambar dan sapa tak ubahnya udara terberat
di atmosfer hangat kerabat
Tak heran, bila seorang (S)alim di jalan Tuhan-nya, pernah bilang:

“Karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai.
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita,
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil,
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja, tentu terlebih sering,
… imankulah yang compang-camping…” (Salim A. Fillah)

Kini aku tahu, Bapak, maksud baris akhir puisi Cinta-mu
tentang kunci yang mempertemukan
dari kalbu yang saling memandang
di arah yang tak kau jelaskan.

di arah sini. Di kalbu masing-masing
yang pada akhirnya
akan menjelma:
satu sama lain

Maka
aku, kau, dan semua akan tahu
bahwa jarak yang menjembatani kita hanyalah kerikil-kerikil
yang menunggu untuk dihantam
oleh kepalan tangan kita sendiri

“Jangan biarkan sebutir pasir retak dan pecah, ia akan menjadi debu. Tetapi, biarlah pantai bergurat-gurat dibantai angin dan gelombang. Ia akan tetap pantai…”

Begitu Sutardji Calzoum Bachri pernah berpetuah, tentang seorang penyair yang kesal karena arti dari puisi yang ditulisnya berubah: gara-gara huruf yang salah cetak.

“Engkau menulis untuk sesuatu salah cetak…” begitu Bapak Sutardji melanjutkan.

Menulis untuk salah cetak kehidupan
Menulis karena adanya kemiskinan, pengkhianatan, kesedihan, ketidakadilan…

“Kalau itu adalah karya besar, ia tetap saja karya besar
walau telah dibikin salah cetak, bahkan oleh waktu…”

Begitu Bapak Sutardji kembali mengingatkan.
Ya, Bapak… seperti sehampar pasir
yang akan tetap menjadi pantai… begitu bukan?

“Biarlah pantai bergurat-gurat dibantai angin dan gelombang. Ia akan tetap pantai…”

Maka persahabatan
atau persaudaraan, begitu aku lebih suka menyebutnya
adalah maha karya dari Sang Pencipta. Untuk Kita.
Ia akan tetap maha. Ia selalu jadi mega. Meski rintik-rintik hujan sering menutupinya

Maka kenapa kita tidak menari saja
diiringi lagu Melly Goeslaw juga tidak apa
seperti Cinta dan teman-temannya, di layar lebar yang entah kenapa judulnya:
menanyakan kabarnya

Atau mari kita duduk saja
melingkar sambil mendengar dawai gitar dipetik
menyimak bebait puisi dari Rako Prijanto dialun
seperti yang dilakukan Cinta
kepada teman-temannya:

“Ketika tunas ini tumbuh
serupa tubuh yang mengakar
setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur dan emosi
bersatu dalam jubah terpautan
tangan kita terikat
lidah kita menyatu
maka apa terucap adalah sabda pendita ratu
Ahh.. di luar itu pasir di luar itu debu
hanya angin meniup saja
lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
menari cuma kita yang tau
Jiwa ini tandu
maka duduk saja
maka akan kita bawa
semua
karena…
kita..
adalah…
SATU”

Aku ingin memandang kita. Aku ingin menjelma pantai di pinggir samudera. Aku ingin menjadi CINTA.

from: dakwatuna..

oh…i love You

oh…i love You

by Elvira Rosana on Saturday, May 23, 2009 at 6:50pm · semut merah itu bergerombol mendekati potongan buah semangka yg terbuang Tida tau apa karna sengaja dibuang atau terjatuh.. Bukan masalah semngka yang akan ku tulis disini… …………….. Langit hari ini begitu cerah… langit., aku salah satu orang yg suka melihat langit… seakan-akan mereka menghipnots pkranku.. dg keindahannya pkranku jd yenang, takjub dan WAH.. Mungkin bagi sebagian orang kebiasaanku sangat aneh,,, apa yg indah ? Langitkan begitu-begitu saja.. ada awan dan begitu-begitu saja… Tapi bebeda enganku.. Justru bagiku langiit yg dihiasi awan-awan yg begita banyak macam bentuknya membuatku bgtu tenang, bgt bersemangat…. Apa karena letak langit itu di atas, sehingga tiap kali aku melihatnya, aku akan mendongakkan kepala..katanya nih posisi kepala seperti ini membawa energi (+) pd kita.. (tips bwt teman-tman yg lg BT: tundukkan kepala lalu tiba-tiba rubah pposisi kepala mendongak n jgn lp dengan mengepalkan tangan, blg Allahuakbar !!!) Sebaliknya saat kita menundukkan kpala.. akan mengubah perasaan kita seketika menjadi sedih (mknya org muhasbah di suruh untuk menunduk) Kembali ke masalah langit.. Lebih banyak lagi pelajran yg bisa kita ambil dr melihat lgit.. Salah satunya dengan melihat langit… kita akan mrsakan dunia ini bgt luas.. kita tdk bisa melihat batas disna.. Begitu juga yang kurasakan pd drku dan lingkunganku.. Apa yg ku;lakukan sekrg ini blm ada apa-apanya.. Masih luas lg yg bs kulakukan.. Masih banyak lg prestsi yg bisa di toreh.. Begitu banyak ksmptan itu.. bgtu luas harapan itu.. Untuk mencpai yg lebih dan lebih lg… Baik prestasi dunia maupun prestasi akhirat tentunya.. Peljran yg berharga lg saat melihat langit bgku… begtu banyak dan melimpah nikmat Allah yg diberikan kpd umatnya (bs kita rsakan sendiri).. salah satunya tanpa langit ya koita tidak bs menginjakkan kaki di bumi.. karena memang langit yg membatasi kita dari sinar matahsri langsung.. yg bisa membkar kulit kita… Mak sbenarnya sudah sepatutnyalah kita bersyukur… “Kami berikan kepadamu nikmat penglihatan, pendengran, hati nurani tp sedikit sekali kamu bersyukur” walaupun semua pohon menjadi pena dan lautan titanya dan ditambah sebanyak itu lagi… Sungguh belum akan cukup untuk menuliskan nikmat Allah… mar bersyukur… I love see sky..

Doa Rabhitah

Doa Rabhitah

by Elvira Rosana on Thursday, September 24, 2009 at 10:44pm ·

Sesungghny Engkau tau bhwa ht ni tlah brst
Brhmpn dlm naungn cntMu
Brtmu dlm ktaatn
Brstu dlm prjuangn
Mngakn syriat dlm khdpan

Kuatknlah iktnnya
Kkalknlah cntanya
Tnjklah jlan2nya

Trglah dg chyMu yg tiada
Prnah pdam
Ya Rabbi..
Bimbglah kami…

kepada teman yang kucintai karena Allah

kepada teman yang kucintai karena Allah

by Elvira Rosana on Thursday, December 24, 2009 at 3:32pm ·

Apa kabar teman? Moga selalu dalam lindungan ﷲ
Apa kabar iman? Semoga selalu dalam keimanan kepada ﷲ
Apa kabar cinta? Moga selalu ditempatkan pada posisi terbaiknya.
Teman, ingatkah saat kita pertama kali berjumpa?
Terus terang vira tidak begitu ingat.
Tapi lihatlah sekarang bagaimana kita bergaul dan menorehkan kisah yang beraneka ragam.
Sejarah hidup kita telah rimbun oleh cerita.
Teman, perjalanan kita tentu tak selalu mulus tanpa ada masalah.
Namun, vira yakin kita telah dapat tempatkan sesuatu dengan baik,
Tak mungkin rasanya segala sesuatu berjalan tanpa problem.
Apalagi kita manusia belaka, tempatnya salah dan dosa.
Selayaknya kita muhasabah dan saling memaafkan.
Lapang hati atas segala kesalahpahaman yang senantiasa ada.
Teman, tak lupa vira haturkan terima kasih.
Karna teman telah menjadi salah satu bagian kisah hidupku.
Mewarnai indah, berjuta warna
Yang barangkali, jika kita buat lukisan.
Lukisan itu akan indah, walau tak selalu cerah.
Teman, nasihatmu buatku senantiasa terjaga dari kekurangan.
Semangatmu, bagaikan cemeti bagi kemalasanku.
Cintamu, torehkanasa yang senantiasa menyala dalam kegalauan diri.
Buatku percaya, bahwa diri ini berharga
Kata terakhir, maafkan temanmu ini….do’akan istiqomah
Diposkan oleh edelweis di 01:49

di ambil dari blog edelweis…

BISAKAH KITA BUKTIKAN KEIMANAN KITA ?

BISAKAH KITA BUKTIKAN KEIMANAN KITA ?

by Elvira Rosana on Sunday, January 9, 2011 at 4:45pm ·

Sumber : Tarbawi edisi Muharram 1432H

Menekuni hadits dan sabda Rasulullah saw, selalu menghasilkan nilai-nilai yang begitu dalam maknanya. Sabda Rasulullah saw, disebut para ulama memiliki sifat “jawaami’ul kalim”, perkataan yang singkat, padat, berbobot. Seperti salah satu sabdanya yang kita coba renungkan kali ini, “ada tiga sikap,” kata Rasulullah saw. “Bila ketiganya berkumpul pada seseorang , terhimpunlah makna keimanan dalam diri orang itu. Yaitu sikap objektif terhadap diri sendiri, menyebarkan salam kepada siapapun (yang dikenal maupun yang tidak dikenal), dan berinfaq di saat kebutuhan terhadap yang diinfaqkan.”
Perhatikanlah satu persatu sikap itu. Teliti perlahan. Lalu ucapkan subhanallah, Maha suci Allah swt yang memberikan ilham kepada Rasulullah SAW dalam perkataan yang sangat penuh nilai itu. Mari kita renungkan
Saudaraku,
Sikap jujur meskipun pada diri sendiri, seimbanng dalam menilai walaupun terhadap diri sendiri, objektif dalam menghukumi walaupun terhadap siri sendiri. Itu semua juga berarti mempertahankan sikap netral di saat kita berselisih dengan pihak lain. Artinya, kita tetap bisa memandang sisi baik orang yang berbeda san kita anggap salah, dan sebaliknya tetap bisa melihat sisi negatif yanng mungkin ada pada diri kit sendiri, saat kita bersikap menyalahkan perilaku oang lain. Sebagian besar orang menyatakan, sikap seperti itu mustahil dimiliki. Alasannya, hampir tidak ada manusia yang terlepas dari ke-aku-an dan ego, sehingga dia akan sulit sekali memposisikan dirinya, sama, seimbang dalam menilai pihak lain yang sedang berselisih dengannya.
Saudaraku,
Biasanya kita memiliki pandangan lebih istimewa terhadap diri kita sendiri, atau biasanya juga, kita akan selalumencoba mencari sisi mana yang bisa membenarkan apa yang kita lakukan. Kita, bagaimanapun umumnya merasakan, memiliki unsur kebenaran yang lebih banyak ketimbang orang lain. Lalu, bila kita dalam posisi sulit membela diri karena telah jelas melakukan kesalahan, kita menelisik dan mencai-cari, sisi mana yang masih mungkin diambil dan diangkat, agar sedikit banyak bisa menambah pembenarankesalahan yang kita lakukan. Misalnya kita akan berusaha membenarkan sikap keliru yang kita lakukan, dengan melihat dari sisi niat, atau keinginan baik yang kita lakukan. Sehingga, meskipun salah, setidaknya kita berniat baik. Poin niat baik itu mengandung unsur ego agar setidaknya bisa menambah sisi baik dari sebuah kesalahan. Atau jika sudah benar mengakui salah, tapi mungkin cara pengungkapannya yang salah. Sedangkan maksudnya adalah baik.” Begitulah.
Memang sulit sekali berlaku adil, objektif, jujur, tatkala harus berurusan dengan diri sendiri. Dantiulah sikap pertama yang bila dimiliki, menurut Rasulullah saw, adalah bagian penting dari keimanan. Para ulama saat menguraikan hadist ini menjelaskan, bahwa orang-orang jujur, yang adil, yang objektif, adalah orang yang mengenal dan mengakui apa yang dilakukannya. Mengakui terhadap dirinya sendiri bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah terhadap fulan. Atau mengakui bahwa ia telah berlaku merendahkan fulan.
Saudaraku,
Masih dalam konteks yang sama, sangat berbeda sekali bila kita melihat kesalahan yang sama dilakukan oleh orang lain. Rasulullah saw memberikan pemisalan lain tentang hal ini. “salah soerang kalian melihat kotoran di mata saudaranya. Tapi ia melupakan kotoran besar yang ada di matanya sendiri,” demikian dalam hadist riwayat Bukhari. Kita cendrung tidak melihat apa latar belakang, niat, dan maksud orang yang kita anggap melakukan kesalahan itu. Apalagi bila berfikir,orang tersebut akan bertaubat, beristigfar, dan menyesali penyesalannya. Coba bandingkan dua hal itu.
Sikap yang sama juga harusnya berlaku bila kita berhadapan dengan suatu kelompok, organisasi atau lembaga. Tidak menisbatkan kesalahan seseorang dari kelompok tertentu, menjadi kesalahan semua orang yang ada dalam kelompok atau organisasi itu. Persis sama dengan keinginan kita, agar pihak lain tidak menyamaratakan kekeliruan satu dua orang kelompok kita, menimpa seluruh orang yang ada dalam organisasi itu, termasuk kita.
Saudaraku,
Sikap kedua dalam hadist di atas juga memiliki irisann makna yang jelas dengan sikap pertama. Memberi salam kepada siapapun, baik orang yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Sepertinya mudah, tapi ini merupakan ciri dari ketawadu’an sekaligus keimanan seseorang.
Sedangkan sikap ketiga, berinfaq dengan sesuatu yang diperlukan. Mengeluarkan dan memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan di saat kita sendiri sedang membutuhkan sesuatu itu. Pasti tidak mudah, karena jiwa manusia cendrung menahan apa yang dia miliki, dan cendrung tidak memberikan kepada orang lain, sesuatu yang ia butuhkan. Maka seandainya ada orang yang memiliki sikap seperti ini, hampir dipastikan tidak ada kesombongan dalam dirinya, tidak ada ego dalam hatinya. Yang ada adalah empati, mendahulukan orang lain, yang otomatis berarti lebih menghargai orang lain.
Saudaraku,
Tiga sikap yang sungguh padat nilainya dan bukan mudah memilikinya. Tiga sikap yang saling terkait dan benar-benar menunjukkan kualitas iman yang luar biasa bagi orang yang melakukannya. Bersikap jujur terhadap diri sendiri, tidak memandang kondisi orang dalam bersikap baik, lalu memberikan kepada orang lain dengan sesuatu yang sedang dibutuhkan.
Adakah diantara kita yang sanggup membuktikan keimanan kita dengan melakukan sikap-sikap itu semua?[]

Ranah 3 Warna

Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak besebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya 1 sentimeter, tp bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun. Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktiv, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, Bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih. Bagaimanapun tingginya impian, dia tetp wajib dibela habis2an. Walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh2lah jalan sukses terbuka, tapi dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik yang paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar. Sabar itu awalnya terasa pahit tapi akhirnya lebih manis daripada madu. Man jadda wajadda Man Shabara zhafira Siapa yang bersungguh sungguh dia akan mendapatkan Siapa yang bersabar akan beruntung.. -A. Fuadi- Dalam Ranah 3 warna

Kejadian menyakitkan vs Kejadian menyenangkan

Apakah yang disebut kejadian menyakitkan???

Apakah yang disebut kejadian menyenangkan???

Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan..

Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri,

menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek..,

Wajah seperti ini cantik, wajah seperti ini jelek..,

Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin..,

Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar,,

yang disebut buku perbandingan..

Buku tersebut lantas diserahterimakan kepada generasi penerusnya,

selalu diperbaharui sesuai kebutuhan jaman,,

yang sayangnya dalam banyak hal, lama-lama perbandingan itu amat menyedihkan..

Mempunyai harta benda itu baik, miskin papa itu jelek,,

Beneran ukuran-ukuran yang tidak hakiki..

bagaimana mungkin posisinya tetap lebih baik kalau harta benda itu didapatkan dengan cara-cara yang tidak baik??

bagaimana pula tetap lebih jelek kalau kemiskinan itu memberikan kehormatan hidup???

Ketahuilah…

Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan,,

maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan..

Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan,,

maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah,, pasti ada yang tidak beruntung darimu..

hanya sesederhana itu..

Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur…

From : Rembulan Tenggelam di Wajahmu..