BISAKAH KITA BUKTIKAN KEIMANAN KITA ?

by Elvira Rosana on Sunday, January 9, 2011 at 4:45pm ·

Sumber : Tarbawi edisi Muharram 1432H

Menekuni hadits dan sabda Rasulullah saw, selalu menghasilkan nilai-nilai yang begitu dalam maknanya. Sabda Rasulullah saw, disebut para ulama memiliki sifat “jawaami’ul kalim”, perkataan yang singkat, padat, berbobot. Seperti salah satu sabdanya yang kita coba renungkan kali ini, “ada tiga sikap,” kata Rasulullah saw. “Bila ketiganya berkumpul pada seseorang , terhimpunlah makna keimanan dalam diri orang itu. Yaitu sikap objektif terhadap diri sendiri, menyebarkan salam kepada siapapun (yang dikenal maupun yang tidak dikenal), dan berinfaq di saat kebutuhan terhadap yang diinfaqkan.”
Perhatikanlah satu persatu sikap itu. Teliti perlahan. Lalu ucapkan subhanallah, Maha suci Allah swt yang memberikan ilham kepada Rasulullah SAW dalam perkataan yang sangat penuh nilai itu. Mari kita renungkan
Saudaraku,
Sikap jujur meskipun pada diri sendiri, seimbanng dalam menilai walaupun terhadap diri sendiri, objektif dalam menghukumi walaupun terhadap siri sendiri. Itu semua juga berarti mempertahankan sikap netral di saat kita berselisih dengan pihak lain. Artinya, kita tetap bisa memandang sisi baik orang yang berbeda san kita anggap salah, dan sebaliknya tetap bisa melihat sisi negatif yanng mungkin ada pada diri kit sendiri, saat kita bersikap menyalahkan perilaku oang lain. Sebagian besar orang menyatakan, sikap seperti itu mustahil dimiliki. Alasannya, hampir tidak ada manusia yang terlepas dari ke-aku-an dan ego, sehingga dia akan sulit sekali memposisikan dirinya, sama, seimbang dalam menilai pihak lain yang sedang berselisih dengannya.
Saudaraku,
Biasanya kita memiliki pandangan lebih istimewa terhadap diri kita sendiri, atau biasanya juga, kita akan selalumencoba mencari sisi mana yang bisa membenarkan apa yang kita lakukan. Kita, bagaimanapun umumnya merasakan, memiliki unsur kebenaran yang lebih banyak ketimbang orang lain. Lalu, bila kita dalam posisi sulit membela diri karena telah jelas melakukan kesalahan, kita menelisik dan mencai-cari, sisi mana yang masih mungkin diambil dan diangkat, agar sedikit banyak bisa menambah pembenarankesalahan yang kita lakukan. Misalnya kita akan berusaha membenarkan sikap keliru yang kita lakukan, dengan melihat dari sisi niat, atau keinginan baik yang kita lakukan. Sehingga, meskipun salah, setidaknya kita berniat baik. Poin niat baik itu mengandung unsur ego agar setidaknya bisa menambah sisi baik dari sebuah kesalahan. Atau jika sudah benar mengakui salah, tapi mungkin cara pengungkapannya yang salah. Sedangkan maksudnya adalah baik.” Begitulah.
Memang sulit sekali berlaku adil, objektif, jujur, tatkala harus berurusan dengan diri sendiri. Dantiulah sikap pertama yang bila dimiliki, menurut Rasulullah saw, adalah bagian penting dari keimanan. Para ulama saat menguraikan hadist ini menjelaskan, bahwa orang-orang jujur, yang adil, yang objektif, adalah orang yang mengenal dan mengakui apa yang dilakukannya. Mengakui terhadap dirinya sendiri bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah terhadap fulan. Atau mengakui bahwa ia telah berlaku merendahkan fulan.
Saudaraku,
Masih dalam konteks yang sama, sangat berbeda sekali bila kita melihat kesalahan yang sama dilakukan oleh orang lain. Rasulullah saw memberikan pemisalan lain tentang hal ini. “salah soerang kalian melihat kotoran di mata saudaranya. Tapi ia melupakan kotoran besar yang ada di matanya sendiri,” demikian dalam hadist riwayat Bukhari. Kita cendrung tidak melihat apa latar belakang, niat, dan maksud orang yang kita anggap melakukan kesalahan itu. Apalagi bila berfikir,orang tersebut akan bertaubat, beristigfar, dan menyesali penyesalannya. Coba bandingkan dua hal itu.
Sikap yang sama juga harusnya berlaku bila kita berhadapan dengan suatu kelompok, organisasi atau lembaga. Tidak menisbatkan kesalahan seseorang dari kelompok tertentu, menjadi kesalahan semua orang yang ada dalam kelompok atau organisasi itu. Persis sama dengan keinginan kita, agar pihak lain tidak menyamaratakan kekeliruan satu dua orang kelompok kita, menimpa seluruh orang yang ada dalam organisasi itu, termasuk kita.
Saudaraku,
Sikap kedua dalam hadist di atas juga memiliki irisann makna yang jelas dengan sikap pertama. Memberi salam kepada siapapun, baik orang yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Sepertinya mudah, tapi ini merupakan ciri dari ketawadu’an sekaligus keimanan seseorang.
Sedangkan sikap ketiga, berinfaq dengan sesuatu yang diperlukan. Mengeluarkan dan memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan di saat kita sendiri sedang membutuhkan sesuatu itu. Pasti tidak mudah, karena jiwa manusia cendrung menahan apa yang dia miliki, dan cendrung tidak memberikan kepada orang lain, sesuatu yang ia butuhkan. Maka seandainya ada orang yang memiliki sikap seperti ini, hampir dipastikan tidak ada kesombongan dalam dirinya, tidak ada ego dalam hatinya. Yang ada adalah empati, mendahulukan orang lain, yang otomatis berarti lebih menghargai orang lain.
Saudaraku,
Tiga sikap yang sungguh padat nilainya dan bukan mudah memilikinya. Tiga sikap yang saling terkait dan benar-benar menunjukkan kualitas iman yang luar biasa bagi orang yang melakukannya. Bersikap jujur terhadap diri sendiri, tidak memandang kondisi orang dalam bersikap baik, lalu memberikan kepada orang lain dengan sesuatu yang sedang dibutuhkan.
Adakah diantara kita yang sanggup membuktikan keimanan kita dengan melakukan sikap-sikap itu semua?[]

Advertisements