Doa Rabhitah

Doa Rabhitah

by Elvira Rosana on Thursday, September 24, 2009 at 10:44pm ·

Sesungghny Engkau tau bhwa ht ni tlah brst
Brhmpn dlm naungn cntMu
Brtmu dlm ktaatn
Brstu dlm prjuangn
Mngakn syriat dlm khdpan

Kuatknlah iktnnya
Kkalknlah cntanya
Tnjklah jlan2nya

Trglah dg chyMu yg tiada
Prnah pdam
Ya Rabbi..
Bimbglah kami…

Advertisements

kepada teman yang kucintai karena Allah

kepada teman yang kucintai karena Allah

by Elvira Rosana on Thursday, December 24, 2009 at 3:32pm ·

Apa kabar teman? Moga selalu dalam lindungan ﷲ
Apa kabar iman? Semoga selalu dalam keimanan kepada ﷲ
Apa kabar cinta? Moga selalu ditempatkan pada posisi terbaiknya.
Teman, ingatkah saat kita pertama kali berjumpa?
Terus terang vira tidak begitu ingat.
Tapi lihatlah sekarang bagaimana kita bergaul dan menorehkan kisah yang beraneka ragam.
Sejarah hidup kita telah rimbun oleh cerita.
Teman, perjalanan kita tentu tak selalu mulus tanpa ada masalah.
Namun, vira yakin kita telah dapat tempatkan sesuatu dengan baik,
Tak mungkin rasanya segala sesuatu berjalan tanpa problem.
Apalagi kita manusia belaka, tempatnya salah dan dosa.
Selayaknya kita muhasabah dan saling memaafkan.
Lapang hati atas segala kesalahpahaman yang senantiasa ada.
Teman, tak lupa vira haturkan terima kasih.
Karna teman telah menjadi salah satu bagian kisah hidupku.
Mewarnai indah, berjuta warna
Yang barangkali, jika kita buat lukisan.
Lukisan itu akan indah, walau tak selalu cerah.
Teman, nasihatmu buatku senantiasa terjaga dari kekurangan.
Semangatmu, bagaikan cemeti bagi kemalasanku.
Cintamu, torehkanasa yang senantiasa menyala dalam kegalauan diri.
Buatku percaya, bahwa diri ini berharga
Kata terakhir, maafkan temanmu ini….do’akan istiqomah
Diposkan oleh edelweis di 01:49

di ambil dari blog edelweis…

BISAKAH KITA BUKTIKAN KEIMANAN KITA ?

BISAKAH KITA BUKTIKAN KEIMANAN KITA ?

by Elvira Rosana on Sunday, January 9, 2011 at 4:45pm ·

Sumber : Tarbawi edisi Muharram 1432H

Menekuni hadits dan sabda Rasulullah saw, selalu menghasilkan nilai-nilai yang begitu dalam maknanya. Sabda Rasulullah saw, disebut para ulama memiliki sifat “jawaami’ul kalim”, perkataan yang singkat, padat, berbobot. Seperti salah satu sabdanya yang kita coba renungkan kali ini, “ada tiga sikap,” kata Rasulullah saw. “Bila ketiganya berkumpul pada seseorang , terhimpunlah makna keimanan dalam diri orang itu. Yaitu sikap objektif terhadap diri sendiri, menyebarkan salam kepada siapapun (yang dikenal maupun yang tidak dikenal), dan berinfaq di saat kebutuhan terhadap yang diinfaqkan.”
Perhatikanlah satu persatu sikap itu. Teliti perlahan. Lalu ucapkan subhanallah, Maha suci Allah swt yang memberikan ilham kepada Rasulullah SAW dalam perkataan yang sangat penuh nilai itu. Mari kita renungkan
Saudaraku,
Sikap jujur meskipun pada diri sendiri, seimbanng dalam menilai walaupun terhadap diri sendiri, objektif dalam menghukumi walaupun terhadap siri sendiri. Itu semua juga berarti mempertahankan sikap netral di saat kita berselisih dengan pihak lain. Artinya, kita tetap bisa memandang sisi baik orang yang berbeda san kita anggap salah, dan sebaliknya tetap bisa melihat sisi negatif yanng mungkin ada pada diri kit sendiri, saat kita bersikap menyalahkan perilaku oang lain. Sebagian besar orang menyatakan, sikap seperti itu mustahil dimiliki. Alasannya, hampir tidak ada manusia yang terlepas dari ke-aku-an dan ego, sehingga dia akan sulit sekali memposisikan dirinya, sama, seimbang dalam menilai pihak lain yang sedang berselisih dengannya.
Saudaraku,
Biasanya kita memiliki pandangan lebih istimewa terhadap diri kita sendiri, atau biasanya juga, kita akan selalumencoba mencari sisi mana yang bisa membenarkan apa yang kita lakukan. Kita, bagaimanapun umumnya merasakan, memiliki unsur kebenaran yang lebih banyak ketimbang orang lain. Lalu, bila kita dalam posisi sulit membela diri karena telah jelas melakukan kesalahan, kita menelisik dan mencai-cari, sisi mana yang masih mungkin diambil dan diangkat, agar sedikit banyak bisa menambah pembenarankesalahan yang kita lakukan. Misalnya kita akan berusaha membenarkan sikap keliru yang kita lakukan, dengan melihat dari sisi niat, atau keinginan baik yang kita lakukan. Sehingga, meskipun salah, setidaknya kita berniat baik. Poin niat baik itu mengandung unsur ego agar setidaknya bisa menambah sisi baik dari sebuah kesalahan. Atau jika sudah benar mengakui salah, tapi mungkin cara pengungkapannya yang salah. Sedangkan maksudnya adalah baik.” Begitulah.
Memang sulit sekali berlaku adil, objektif, jujur, tatkala harus berurusan dengan diri sendiri. Dantiulah sikap pertama yang bila dimiliki, menurut Rasulullah saw, adalah bagian penting dari keimanan. Para ulama saat menguraikan hadist ini menjelaskan, bahwa orang-orang jujur, yang adil, yang objektif, adalah orang yang mengenal dan mengakui apa yang dilakukannya. Mengakui terhadap dirinya sendiri bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah terhadap fulan. Atau mengakui bahwa ia telah berlaku merendahkan fulan.
Saudaraku,
Masih dalam konteks yang sama, sangat berbeda sekali bila kita melihat kesalahan yang sama dilakukan oleh orang lain. Rasulullah saw memberikan pemisalan lain tentang hal ini. “salah soerang kalian melihat kotoran di mata saudaranya. Tapi ia melupakan kotoran besar yang ada di matanya sendiri,” demikian dalam hadist riwayat Bukhari. Kita cendrung tidak melihat apa latar belakang, niat, dan maksud orang yang kita anggap melakukan kesalahan itu. Apalagi bila berfikir,orang tersebut akan bertaubat, beristigfar, dan menyesali penyesalannya. Coba bandingkan dua hal itu.
Sikap yang sama juga harusnya berlaku bila kita berhadapan dengan suatu kelompok, organisasi atau lembaga. Tidak menisbatkan kesalahan seseorang dari kelompok tertentu, menjadi kesalahan semua orang yang ada dalam kelompok atau organisasi itu. Persis sama dengan keinginan kita, agar pihak lain tidak menyamaratakan kekeliruan satu dua orang kelompok kita, menimpa seluruh orang yang ada dalam organisasi itu, termasuk kita.
Saudaraku,
Sikap kedua dalam hadist di atas juga memiliki irisann makna yang jelas dengan sikap pertama. Memberi salam kepada siapapun, baik orang yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Sepertinya mudah, tapi ini merupakan ciri dari ketawadu’an sekaligus keimanan seseorang.
Sedangkan sikap ketiga, berinfaq dengan sesuatu yang diperlukan. Mengeluarkan dan memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan di saat kita sendiri sedang membutuhkan sesuatu itu. Pasti tidak mudah, karena jiwa manusia cendrung menahan apa yang dia miliki, dan cendrung tidak memberikan kepada orang lain, sesuatu yang ia butuhkan. Maka seandainya ada orang yang memiliki sikap seperti ini, hampir dipastikan tidak ada kesombongan dalam dirinya, tidak ada ego dalam hatinya. Yang ada adalah empati, mendahulukan orang lain, yang otomatis berarti lebih menghargai orang lain.
Saudaraku,
Tiga sikap yang sungguh padat nilainya dan bukan mudah memilikinya. Tiga sikap yang saling terkait dan benar-benar menunjukkan kualitas iman yang luar biasa bagi orang yang melakukannya. Bersikap jujur terhadap diri sendiri, tidak memandang kondisi orang dalam bersikap baik, lalu memberikan kepada orang lain dengan sesuatu yang sedang dibutuhkan.
Adakah diantara kita yang sanggup membuktikan keimanan kita dengan melakukan sikap-sikap itu semua?[]

Ranah 3 Warna

Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak besebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya 1 sentimeter, tp bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun. Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktiv, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, Bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih. Bagaimanapun tingginya impian, dia tetp wajib dibela habis2an. Walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh2lah jalan sukses terbuka, tapi dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik yang paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar. Sabar itu awalnya terasa pahit tapi akhirnya lebih manis daripada madu. Man jadda wajadda Man Shabara zhafira Siapa yang bersungguh sungguh dia akan mendapatkan Siapa yang bersabar akan beruntung.. -A. Fuadi- Dalam Ranah 3 warna

Kejadian menyakitkan vs Kejadian menyenangkan

Apakah yang disebut kejadian menyakitkan???

Apakah yang disebut kejadian menyenangkan???

Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan..

Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri,

menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek..,

Wajah seperti ini cantik, wajah seperti ini jelek..,

Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin..,

Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar,,

yang disebut buku perbandingan..

Buku tersebut lantas diserahterimakan kepada generasi penerusnya,

selalu diperbaharui sesuai kebutuhan jaman,,

yang sayangnya dalam banyak hal, lama-lama perbandingan itu amat menyedihkan..

Mempunyai harta benda itu baik, miskin papa itu jelek,,

Beneran ukuran-ukuran yang tidak hakiki..

bagaimana mungkin posisinya tetap lebih baik kalau harta benda itu didapatkan dengan cara-cara yang tidak baik??

bagaimana pula tetap lebih jelek kalau kemiskinan itu memberikan kehormatan hidup???

Ketahuilah…

Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan,,

maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan..

Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan,,

maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah,, pasti ada yang tidak beruntung darimu..

hanya sesederhana itu..

Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur…

From : Rembulan Tenggelam di Wajahmu..

Kisah 2 Pemahat Hebat

Dulu pernah hidup 2 pemahat hebat,,,mereka terkenal hingga diundang raja berlomba diistanyanya.. Mereka diberikan sebuah raungan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan. Persis di tengah ruangan dibentangkan tirai kain. Sempirna membatasi, memisahkan sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat yang lain. Mereka diberikan waktu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing. “kau athu apa yang terjadi??Pemahat pertama, memutuskan menggunakan seluruh pahat, alat-alat, dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membuat pahatan indah di tembok batunya. Dia juga menggunakan cat-cat warna, hiasan-hiasan,, dan segalanya.. Orang itu terus memahat berhari-hari, tidak mengenal lelah, hingga akhirnya menghasilkan sebuah pahatan yang luar biasa indah. siapapun melihatnya sungguh tak akan bisa membantah betapa indah pahatan itu. ‘Tirai kemudian dibuka, tercenganglah pemahat pertama. Meski dia sudah bekerja keras siang malam, persis di hadapannya, pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding lebih indah darinya. berkilau indah. Berdesir si pemahat pertama. Berseru kepada raja, ia akan menambah elok likisannya! Berikan dia waktu ! dia akan mengalahkan pemahat kedua. maka tirai ditutup lagi. Tanpa henti pemahat pertama mempercantik dinding bagiannya berhari-hari.Hingga dia merasa saingannya tidak akan bisa membuat yang lebih indah dibandingkan miliknya.. “Tirai dibukauntuk kedua kalinya. Apa yang dilihat pemahat pertama? Sungguh dia tersekiap. ternganga. dinding diseberangnya lagi-lagi lebih elok memesona.. Dia berdesir tidak puas. Berteriak meminta waktu tambahan lagi. Begitu saja seterusnya, hingga berkali-kali. Pemahat pertama terus meminta waktu tambahan, dan dia selalu saja merasa dinding batu miliknya kalah indah dibandingkan pemahat kedua. ” tahukah, sebenarnya pemahat kedua tidak melakukan apapun terhadap dinding batunya. Dia hanya menghaluskan dinding itu berkilau bagai cermin. Hanya itu.. sehingga setiap kali tirai dibuka, dia sempurna hanya memantulkan hasil pahatan pemahat pertama.. Nah, itulah perbedaan antara orang-orang yang keterlaluan mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikapi hidupnya. Orang-orang yang terus merasa hidupnya kurang maka tidak berbeda dengan pemahat pertama, tidak akan pernah merasa puas.Tapi orang-orang bijak, orang-orang yang berhasil menghaluskan hatinya secemerlang mungkin, membuat hatinya bagai cermin, maka dia bisa merasakan kebahagiaan melebihi orang terkaya sekalipun. _tere liye_

Dia Sahabatku…

“ada rasa yg sll menggganjal jika mengetahui seseorang yg biasanya dekat dg kita,mulai menemukan dunianya sendiri tanpa kita..
mungkin dia menemui sahabat baru,atau cara baru untuk berbagi rasa suka dan dukanya.
ah..terlalu egois diri ini memang..
tidak ada hak untuk sll mmonopoli kisah hidupnya..
saatnya diri ini belajar dewasa,,menerima segala takdir hidup ini dg ikhlas..
Dia yang Maha Tahu mngerti smpai dimana kita mampu untuk kehilangan..
toh sampai saat ini masih banyak kesempatan untuk mendengarkan keluh kesahnya,bertemu,dan masih diberi nikmat berupa saling mengingatkan demi kebaikan..
Bukankah saat ini,saat tidak sll bersama, dia justru lebih dewasa menghadapi hidup dan kehidupannya?
semua garisan ini tidak akan ada yg sia2..
banyak pelajaran yg bs diambil dengan kebersamaan masa lalu,,bahkan itu merupaakan episode kehidupan yg mmberikan goresan sangat dalam bagiku..
untuk sahabatku,kakaku,adekku,guruku,dan semua perannya untukku..jazakillah khairan katsiran..
episode kehidupan masih sangat panjang,,
didunia yang akan kita rasakan sesaat pagi atau petang sja nantinya,akan banyak yg akan kita lalui..
semoga ukhuwah ini terjaga slalu,semoga kelalaian masa lalu diberi ampunan,,semoga kita dikumpulkan di surga nanti..amiin ya Rabb..”

Itulah kutipan kata-kata dari seorang sahabat untuk sahabat yang dicintainya InsyaAllah karena Allah,,Kata-kata itu mungkin begitu saja mengalir dipikrannya yang mebimbibing tangannya untuk menggoreskannya dalambentuk tulisan,,,sesaat dia membaca postingan terakhirku di blog ini,,Sebenarnya sudah dari tadi malam ku membacanya,,saat ia kirim ke ponselku melalui WA,,Dan ternyata pagi ini dia mengirimkannya kembali mealaui message di FB,, Bukan aku tak mau membalasnya,, ataupun sekedar mengomentarinya,,karena memang sesaat setelah aku membacanya,, tak terasa,,butiran bening keluar dari sudut-sudut mataku,,tak sanggup membendungnya,, Ku baca ulang kembali,berkali-kali,,hal yang sama pun terjadi padaku..

Sahabat sebegitu dalamnya sayangmu padaku,, Walaupun seringkali aku menyakiti hatimu,,dengan sikap kekanak-kanakan ku,,dengan semua kekuranganku…

Sebagai seorang sahabat,,dalam engkau telah mencapai pada tingkatan ukhwah yang paling tinggi,, yaitu itsar,, sangat susah memang menemukan orang yang mendahulukan kepentingan sahabatnya dibandingkan dengan kepentingannya sendiri,, dan itu kutemui di dirmu,,sepanjang perjalanan kehidupan yang kulalui denagnmu,, maka kaulah yang terbanyak mengalah diantara kita…

Maafkan sahabatmu ini sahabat,, karena memang belum bisa menjadi sahabat sepertimu,,terimakasihkau telah menjadi sosok untuk menjadi seorang sahabat yang baik,,walaupun mungkin sampai nanti aku takkaan bisa sepertimu,, aku selalu berdoa semoga kita akan terus menjadi saudara di dunia dan sampai ke surganya,, Amiinnn….